Apa iya jika mata pelajaran semakin banyak, waktu belajar semakin lama, akan menjadikan anak kita lebih lebih pintar ?
Oleh rhenald Kasali [ketua program magister managemen UI]
Sebagian besar pembaca, mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi yang sulit sehingga kaya dengan berbagai peribahasa seperti : hemat pangkal kaya dan rajin pangkal pandai. Kita bermain layang layang diantara pematang sawah yang tiada batasnya, menangkap belut diantara lumpur sungai yang airnya bening, bermain bersama anak anak kampung dengan tiada henti canda, tawa dan keringat.
Bagaimana anak anak kita sekarang ?lahan lahan kosong telah berganti menjadi kebun sawit atau perumahan mewah. Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang layang dan air yang mengalir bening. Pestisida dan pupuk kimia merusak tanah. Tapi anak anak punya mainan baru : facebook, twitter, online bgames, warnet dan bimbel. Pergaulan fisik diagnti oleh dunia maya. Statistic dan ilmu hitung diganti kalkulator dan software. Dulu kita hanya belajar Sembilan mata pelajaran sehingga masih banyak waktu untuk bermain.
Bagaimana anak anak kita ?
Bagaimana anak anak kita ?
Bukannya dikurangi tetapi semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak anak kita semakin banyak. Seawaktu saya menulis “sekolah untuk apa ?”minggu lalu, saya menyebut anak saya di kelas X diharuskan menuntaskan 16 mata pelajaran. Seorang ibu menyurati saya karena anaknya yang belajar di MI dsuwajibkan tuntas 23 mata pelajaran. Semakin di New Zeeland dan banyak negara maju anak anak sekolah hanya mengambil 6 mata pelajaran. Ketika mereka menganut spirit “the power of simplicity”, kita justru tenggelam dalam spirit benag kusut : “ kalau terlalu mudah tidak akan melahirkan kehebatan”
