Oleh: Syahril Syam

Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang ulang.
Karena itu, keunggulan bukanlah suatu perbuatan, melainkan sebuah kebiasaan.
- Aristoteles -

Kebiasaan bahagia itu memungkinkan seseorang untuk sering-sering terbebas dari dominasi kondisi-kondisi eksternal.
- Robert Louis Stevenson -

Terry Fox adalah seorang atlet Kanada yang luar biasa, masuk olahraga professional saat paha kanannya mulai bermasalah. Ketika dokter memeriksa kaki Terry, mereka menemukan adanya kanker yang sedang menggerogoti pahanya. Ketika kembali ke ruang konsultasi, dokter berkata, “Terry, dengan menyesal saya harus memberitahu Anda, kankernya sudah menyebar di seluruh kaki kanan Anda. Kami harus mengamputasinya hari ini juga. Dan karena usia Anda di atas dua puluh satu tahun, Anda harus menandatangani sendiri persetujuan operasinya.”

Terry menguatkan hati, menandatangani surat persetujuan, dan berusaha untuk tabah menjalaninya. Ketika sedang menjalani pemeriksaan di rumah sakit, dia teringat satu nasehat penuh makna dari pelatihnya di SMU dahulu, yaitu, “Terry, kau bisa melakukan apa saja yang kau mau asalkan kau melakukannya dengan sepenuh hati.”

Dia memutuskan apa yang menjadi keinginannya, yaitu berlari melintasi Kanada, mengumpulkan uang sebesar $ 100.000 untuk penelitian kanker, supaya tidak ada lagi anak muda lain yang menderita kesakitan, kesedihan, malapetaka, dan kesengsaraan seperti yang dirasakannya.

Dia memilih untuk tidak lagi menggunakan kursi roda, tetapi beralih ke kaki palsu, dan mulai mencoba berjalan. Kekuatan dan semangatnya semakin bertambah.

Terry ingin menamai kegiatan yang akan dilakukannya: Maraton Harapan Terry Fox. Dia memberitahukan hal itu kepada orangtuanya, tetapi mereka berkata, “Dengar, Nak. Rencanamu memang mulia, namun kami baru saja berhasil mengumpulkan cukup uang. Dengan uang itu, kami ingin kau kembali ke bangku kuliah dan berbuat sesuatu yang nyata, dan lupakan gagasan aneh yang tidak masuk akal itu.”

Dalam perjalanan ke sekolah, Terry singgah di Perhimpunan Kanker, dan menceritakan niatnya. Mereka berkata, “Kami rasa, Anda benar. Itu suatu gagasan mulia, namun kami tidak akan melakukannya sekarang. Datanglah lagi menemui kami di sini pada lain waktu.”


Terry meyakinkan teman sekamarnya di tempat kuliah untuk bersama-sama berhenti sekolah. Mereka terbang ke pantai timur Kanada. Terry membuang tongkat penyanggahnya di samudra Atlantik dan hari itu juga mereka mulai berlari melintasi Kanada.

Ketika memasuki wilayah Kanada berbahasa Inggris, dengan segera kisahnya menggemparkan halaman-halaman muka media massa. Kita bisa melihat darah menetes di kaki palsunya, mukanya meringis kesakitan, namun Terry terus melaju.

Terry menemui Perdana Menteri, yang belum sempat membaca riwayat hidup Terry sehingga berkata, “Maaf ya, Anda ini siapa?” dan Terry menjawab, “Nama saya Terry Fox, dan saya sedang melakukan lari Maraton Harapan. Harapan saya adalah bisa mengumpulkan seratus ribu dolar – dan itu telah kami dapatkan kemarin. Saya pikir dengan bantuan Bapak Perdana Menteri, kami bisa mengumpulkan sampai satu juta dolar.”

Itulah awal mulanya kita mulai melihat Terry di layar kaca Amerika. Real People datang ke Kanada dan membuat film tentang Terry. Dan sementara mereka membawa Terry meluncur melintasi gelanggang hoki es, mereka mengumpulkan berember-ember uang di tribun.

Terry terus melaju dengan berani dan penuh semangat sepanjang lima puluh kilometer per hari – lebih panjang daripada marathon Boston setiap harinya. Ketika sampai di teluk Guntur, Ontario, dia mengalami masalah serius dengan sistem pernafasannya.

Di kota kecil berikutnya, dokter berkata, “Terry, Anda harus berhenti, cukup sampai di sini saja.” Terry menjawab, “Dok, Anda tidak tahu dengan siapa Anda sedang bicara. Sejak awal, orangtua saya mengusir saya secara halus. Pemerintahan propinsi mengatakan kepada saya bahwa saya hanya menghalangi jalan, saya harus menghentikannya. Perhimpunan Kanker tidak mau membantu saya. Saya memutuskan untuk mengumpulkan seratus ribu dolar. Saya berhasil. Saya naikkan menjadi sejuta dolar; tiga hari yang lalu kami dapat sejuta. Ketika saya meninggalkan kantor Anda, saya akan mengumpulkan satu dolar dari setiap penduduk Kanada, 24,1 juta dolar.”

Dokter berkata, “Dengarlah Nak, saya juga berharap Anda bisa melakukannya, tetapi kenyataannya, kanker dalam tubuh Anda sudah menyebar sampai ke dada. Paling lama, usia Anda kemungkinan besar hanya tinggal enam atau delapan jam lagi. Pesawat jet milik Angkatan Udara sudah disiapkan untuk Anda karena semua orang di negeri ini mendukung Anda. Demi Anda, kami sudah melupakan dahulu prosedur dan birokrasi daerah. Anda sudah menjadi pahlawan Nasional. Sudah selayaknya Anda diperlakukan amat khusus. Kami akan menerbangkan Anda kembali ke British Columbia dan kami sudah memanggil orangtua Anda. Mereka akan berada di sana setibanya kita nanti.”

Sebagian dari kita masih ingat, lewat berita malam kita menyaksikan saat-saat para dokter mendorong Terry memasuki ruang gawat darurat. Seorang jurnalis berusia sembilan belas tahun, yang begitu antusias agar bisa merekam kejadian itu, memaksa masuk ke ruang gawat darurat mengikuti Terry di atas dipan lengkap dengan mikrofon dan kameranya, dan bertanya, “Terry, apa yang akan Anda lakukan setelah ini?”

Sambil menatap kamera, Terry bersikap sebagai seorang profesional hingga di akhir hayatnya. Dia menjawab, “Anda mau menyelesaikan lari saya? Anda mau menyelesaikan lari saya? Anda mau menyelesaikan lari saya?”

Seperti yang kita ketahui, Terry akhirnya meninggal tidak lama kemudian. Pada 24 Desember tahun itu, jutaan orang telah memberikan sumbangan sehingga terkumpul $ 24,1 juta (atau $ 1 per setiap orang Kanada). Itulah yang Terry cita-citakan.

bersambung...

sumber : tianshibontang.blogsome.com/category/artikel010/