Saya Kecewa terhadap Jamaah Dakwah Ini...




assalamu alaykum..maaf copas lagi : )..'jalan2' di forum myquran.org..ketemu tulisan bagus..
===================================================================

http://myquran.org/forum/index.php/topic,73970.0.html

Dakwah dan ujian ibarat dua sisi mata uang. Ada orang yang berhenti dan mundur dari jalan dakwah karena beratnya ujian. Ia selalu mencari alasan untuk berhenti karena semua alasan tersebut adalah ‘logis’. Namun ada juga tetap bertahan dan terus mengembang dakwah dimana hasilnya dapat bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Ia berhenti mencari alasan.

Berikut ini curhat atau dialog fiktif yang penulis ambil dari pengalaman berinteraksi dengan ikhwah (para aktivis dakwah) mengenai beberapa masalah dalam manhaj dakwah. Semoga bermanfaat.

Budi [bukan nama sebenarnya] “ mas, saya mau berhenti liqo sama pak Ahmad [bukan nama sebenarnya]..”

Saya :“ kenapa akh ?“

Budi  : “saya gak cocok sama murobi. Liqo juga terasa kering”

Saya : “maksud antum?”

Budi  : “ya isinya itu itu aja. Tilawah, curhat, taushiah sekenanya. Terus. Afwan. Pak Ahmad kurang menguasai ilmu syariah. Sering liqo sampai 3 jam lebih. Buang waktu saja, mas”

Saya : “liqo memang bukan majlis taklim.bukan tatsqif atau sejenisnya. Liqo hanyalah sarana penguat ukhuwah dimana kita bisa bertemu dengan saudara kita sesama kader dakwah untuk saling menasihati, membahas agenda dakwah bersama dan sebagainya. Untuk menambah tsaqofah/keilmuan antum dapat manfaatkan sarana tarbiyah yang lain seperti kajian rutin di masjid kampus, kajian tafsir dan fiqih di masjid, kajian di radio, internet dsb. Bisa dari jamaah dakwah ini atau dari ormas lain seperti muhammadiyah, NU, HT, Salafiyun dsb . Atau antum ikut nyantri saja di pesma [pesantren mahasiswa]. Memang kader dakwah dianjurkan untuk mengikuti sarana sarana tarbiyah supaya gak terjadi ketimpangan dalam aspek ruhiyah, tsaqofah, jasadiyah, ekonomi, sosial dsb. Sarana tarbiyah gak cuma yang ana sebut tadi ada daurah, mabit, mukhoyam, training kewirausahaan, kerja bakti dsb. ”

Budi  : “sebenarnya saya juga kecewa dengan jamaah dakwah ini, mas.”

Saya : “kecewa gimana akh ?”

Budi  : “antum bisa lihat di TV. Para qiyadah [pemimpin] dakwah ini baik di dewan maupun di pemerintahan. Banyak yang menyimpang terlibat korupsi dsb.”

Saya : “ya jamaah dakwah ini memang jamaa manusia, bukan jamaah malaikat dan hidayah adalah mutlak milik Allah. Memang terkesan apologis. Tapi kenyataannya demikian. Apakah ada jamaah manusia yang tidak pernah terjerumus ke dalam kemaksiatan, dosa dan penyimpangan lainnya. Coba antum pelajari kembali generasi sahabat dalam menyikapi ujian sperti itu. Mereka pernah terkena ujian berat yang menyebabkan mereka saling berperang. Namun mereka segera kembali kepada Allah dan melakukan ishlah diantara mereka. Kita harus membiasakan tabayun bila ada berita yang tidak jelas. Apakah beliau terbukti melakukannya? Atau hanya permainan media dan intrik politik semata? Kalau beliau memang terbukti melakukannya, kita serahkan mekanisme penindakannya pada sistem dalam jamaah dakwah ini. Kalau menyangkut hak hak orang lain kita serahkan pada proses hukum yang berlaku. Jika beliau adalah sahabat kita sesama kader dakwah, kita bisa menasehatinya secara langsung dengan adab Islami. Alhamdulillah, sampai saat ini jamaah dakwah ini masih berada dalam manhaj (metodologi) dakwah dan belum ada penyimpangan. Ya penyimpangan dilakukan secara personal, bukan dalam hal manhaj. Masih banyak qiyadah kita yang masih istiqomah memperjuangkan nilai nilai kebaikan meski jarang diekspos media

Budi  : “tapi mas.. Saya juga sudah capek melayani pertanyaaan dari masyarakat dan bingung mau jawab apa”

Saya : “antum gak perlu pusing. Antum jelaskan saja apa yang antum dapat dari murobbi atau ikhwah yang kompeten dalam masalah tersebut. Bila antum tidak tahu, jawablah ‘tidak tahu’ dan jangan paksakan diri untuk menjawab bila tidak tahu. Jadi alokasikan sebagian besar energi kita dalam untuk perbaikan diri, pengembangan diri dan dakwah sesuai amanah kita. Dan gunakan sebagian kecil saja untuk mengurusi pertanyaan pertanyaan  tersebut. Kita buktikan amal dakwah kita dengan hasil nyata dan bermanfaat bagi diri kita dan orang lain.”

Budi : “jadi keteladanan itu gak penting, mas ?”

Saya : “keteladanan yang dimaksud dalam Islam bila seorang muslim masih mencontoh keteladanan Rasulullah dan mau bertobat  kepadaNya dengan tobat yang sebenarnya setelah melakukan dosa. Keteladanan juga bukan kultus individu/taqlid buta karena bisa melahirkan kekecewaan dan hal hal yang kontraproduktif terhadap dakwah. Ada atau tidaknya fulan ini atau fulan itu, jamaah dakwah ini akan tetap berjalan dan pasti ada orang yang lebih baik yang akan menggantikannya. Termasuk eksistensi kita. Kita bebas menentukan pilihan : tetap berada di jamaah dakwah ini atau tidak. Perlu antum ketahui, di setiap jamaah dakwah pasti ada kader yang terjerumus dalam penyimpangan dan selalu ada kader yang kecewa. Itu semua tergantung keistiqomahan kita. ”

Budi  : “insya Allah saya masih istiqomah, mas. Jazakumullah khoyr atas penjelasan antum”

Saya : “wa iyyakum. Sama sama akh”

1 komentar:

  1. kunjungi channel kami tentang pengajian dari para kyai nusantara

    https://www.youtube.com/CahayaPetunjukIslam

    BalasHapus

terima kasih atas komentar anda